Search News

Recomended News

minutespost.com – KBRI Riyadh baru saja menemukan TKI dari Grujugan, Bondowoso, Jawa Timur, yang hilang kontak selama 28 tahun, bernama Jumanti binti Bejo Bin Nur Hadi alias Qibtiyah Jumanah, 74...
Jakarta, minutespost.com – Jaan setapak terbuat dari batu semen dan koral dengan bermacam motif. ada kupukupu, bunga, dan apa saja sesuai yang kita inginkan. Beberapa batu bisa dicat sesuai...
minutespost.com- Menjadi seorang putri kerajaan memang selalu jadi pusat perhatian. Terlepas dari Pangeran William dan Harry, kini Putri Eugenie sepupu mereka jadi pusat perhatian karena pilihan...
minutespost.com - Robot seks bionik dengan organ pria  segera diluncurkan tahun ini. Demikian Matt McMullen, pendiri Realbotix sekaligus pembuat robot seks Harmony mengatakan.Sebelumnya,...
Indonesian English

The current Bet365 opening offer for new customers is market-leading bet365 mobile app You can get a free bet right now when you open an account.

Presiden Ingin Bangsa Indonesia Bermental Pemimpin dan Tak Pernah Gentar

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Malang,minutespost.com
Sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia harus memiliki mental besar. Selain itu, sebagai salah satu negara tempat rujukan bagi negara lain dalam merawat keragaman, Indonesia juga harus bermental pemimpin.

"Berani menghadapi tantangan dan hambatan-hambatan. Semakin besar sebuah negara, semakin besar juga tantangan yang kita hadapi. Walaupun tantangannya berat, bangsa besar tidak boleh gentar dan pesimis. Ini penting sekali,” ucap Presiden Joko Widodo saat memberikan Kuliah Umum “Islam Nusantara dan Keutuhan NKRI Untuk Mewujudkan Indonesia Damai” di Universitas Islam Malang pada Kamis, 29 Maret 2018.



Salah satu tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini di antaranya adalah masih maraknya hoaks. Presiden pun mengingatkan agar kita tidak mengembangkan isu-isu yang bisa menyebabkan bangsa Indonesia menjadi pesimis. Menurutnya, jika isu-isu tersebut sudah termakan oleh masyarakat, maka akan muncul pesimisme.



"Saya sendiri ditembak oleh isu PKI. Presiden Jokowi itu PKI. Saya lahir tahun 1961 bulan Juni, PKI dibubarkan tahun 1965, apa ada PKI balita? Logikanya tidak masuk, tapi ada yang percaya. Di medsos ada gambar saya waktu D.N. Aidit tahun 1955 pidato. Coba tahun 1955 saya disebut sudah mendampingi Aidit. Lahir saja belum sudah dampingi. Ini kan sudah kebangetan," kata Presiden.



Oleh karena itu, rakyat Indonesia harus memiliki mental yang kuat, tahan uji, dan tahan banting. Negara besar, lanjutnya, pasti mendapatkan ujian, hambatan, dan rintangan.



"Kita harus tawakal tetapi harus tetap ikhtiar, bekerja keras, dan percaya diri untuk fokus pada usaha membangun bangsa kita. Fokus meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kita tidak boleh menyerah terhadap usaha-usaha lain yang mengancam persatuan kita. Inilah tugas generasi muda kita ke depan," ujar Kepala Negara.



Turut hadir mendampingi Presiden dalam acara ini, antara lain Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo.
(EW/Sumber
Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Foto : Biropers-Setpres

Most Viewed

WHAT’S HOT