Search News

Recomended News

Jakarta, minutespost.com - Tanggal 2  Oktober  sudah erapa tahun ini, diperingati sebagai Hari Batik Nasional di Indonesia. Ini tak lain sejak  batik dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya di...
minutespost.com- Selama 6 tahun, Kristen Devanna terus-menerus mengalami demam, kulit pecah-pecah, dan kelelahan yang sangat parah sehingga dia perlu tidur kembali dalam waktu sejam setelah bangun...
minutespost.com- David Scott (49) dan Roger Wilkes (42), pria dewasa yang bertengkar hanya gara-gara rebutan Chiki. Padahal mereka adalah sahabat sedari kecil. Peristiwa ini pun bermula saat mereka...
Minutespost.com - Mengenalkan nama-nama tanaman pada anak sangat penting untuk memperluas wawasannya.Hal ini bisa dilakukan dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Karena caranys seperti...
Indonesian English

The current Bet365 opening offer for new customers is market-leading bet365 mobile app You can get a free bet right now when you open an account.

Lee Perempuan Satu-Satunya Dalam Perundingan Kim Dan Trump di Singapura

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

minutespost.com - Pertemuan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un di Singapura, ternyata meninggalkan sesuatu yang menarik. Ada satu-satunya perempuan di meja perundingan itu. Siapa dia?
Terungkap sudah, perempuan yang menemani Trump itu adalah Lee Yun-hyang, 61 tahun. Ia kepala divisi layanan penerjemahan di Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.


Selama proses perundingan di Capella Hotel, Pulau Sentosa. Singapura, Lee adalah satu-satunya perempuan di sana. Ia berperan cukup besar dalam kesuksesan pertemuan puncak antaraKim dan Trump tersebut.
Perempuan ini tokoh penting dalam pertemuan diplomatik Amerika Serikat. Ia telah bekerja selama pemerintahan George W.Bush dan Barack Obama.

.Lee lahir di Korea Selatan, dan pada 2008 mulai bekerja di Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat sebagai penerjemah senior diplomatik. Ia kemudian menjadi kepala cabang umum Interpreting Division.

Lee cukup terkenal karena kerap menyuarakan prinsip-prinsip feminisnya saat itu. Ia memilih membesarkan putrinya di Amerika setelah mengalami diskriminasi terhadap perempuan di Korea. "Saya tidak dapat membesarkan anak perempuan saya di negara yang sangat membeda-bedakan perempuan," kata Lee ketika itu.

Lee menyelesaikan studi sarjananya di Universitas Yonsei di Seoul, selulus sekolah internasional di Iran selama 3 tahun.
Sebelumnya ia sempat bekerja sebagai reporter untuk koran Korea Selatan berbahasa Inggris, Yonsei Annals.

Setelah memperoleh gelar master dari Hankuk University of Foreign Studies 'Graduate School of Translation and Interpretation. Dia kemudian mengajar di Sekolah Pascasarjana Penerjemahan dan Interpretasi di Institut Studi Internasional Monterey selama delapan tahun.

Pada 2004, Lee mengajar dan memimpin pusat penerjemahan dan interpretasi di Ewha Graduate School of Translation and Interpretation di Seoul. Selama periode ini, Lee memperoleh gelar doktor dalam interpretasi di Sekolah Penerjemahan dan Interpretasi, Universitas Jenewa, Swiss.


Lee baru-baru ini menyatakan keinginannya untuk menulis buku tentang interpretasi dan memoir dari banyak perjalanan dan pengalamannya dalam berbagai budaya.


Seperti dilaporkan scmp, dalam pertemuan antara Donald Trump dan Kim Jong Un di Singapura, Lee Yun-hyang bersama dengan penerjemah Korea Utara, Kim Ju-song dari Kementerian Luar Negeri menjadi 2 tokoh kunci. Pasangan ini menarik banyak perhatian karena satu-satunya orang yang mengetahui isi penuh dari pertemuan pribadi antara kedua pemimpin tersebut.

Reporter : gilz

Most Viewed

WHAT’S HOT